Oleh Susanna
Terdapat berbagai definisi konseptual mengenai archetype, antara lain:
“The invisible patterns in the mind that control how we experience the world” (Pearson, 1991)
“Narrative structures, themes,and defineable characters that if achived, give us temporary sense of success, fulfillment, and statisfaction” (Pearson&Marr,2002)
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat dikatakan bahwa archetype adalah:
struktur, tema, atau karakter utama yang merepresentasikan diri seseorang, yang mempengaruhi cara individu mempersepsikan pengalamannya, yang menggambarkan kebutuhan dasar individu yang berusaha dipenuhi.
Archetype mengkomunikasikan dan mendasari pengekspresian keinginan-keinginan dasar, arti dan tujuan hidup, dan motivasi seseorang, dimana dalam pengekspresiaan tersebut, setiap individu mempunyai gaya, dan kekhasan masing-masing, yang berbeda satu sama lain tergantung archetype yang dominan dan aktif dalam diri individu.
Fungsi dari archetype sendiri bagi individu adalah mempengaruhi cara pandang seorang individu terhadap sebuah kejadian, terhadap diri sendiri, kebutuhannya, dan apa yang kita mau, apa yang mau kita pelajari, dan lain-lain; selain itu archetype juga yang membantu seseorang dalam menemukan pemenuhan keinginan dasarnya sehingga adanya kepuasan dalam hidup.
Jenis Archetype
Terdapat dua belas archetype, dengan setiap archetype terdapat informasi berupa gambaran umum, bagaimana individu dengan archetype yang aktif tersebut menghadapi dan menyelesaikan masalah, kecenderungan apa yang terjadi jika archetype tersebut dominan dalam diri seorang individu, cerita-cerita yang bagaimana yang menarik individu disesuaikan dengan archetype, tipe kepemimpinan, dan kebutuhan terdasar yang menjadi landasan motivasi individu dalam melakukan sesuatu.
Ke-12 jenis archetype itu adalah innocent, orphan, warrior, caregiver, seeker, lover, destroyer, creator, ruler, magician, sage, dan jester.
Innocent
The Innocent
Individu dengan archetype innocent adalah individu yang melihat dunia sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk hidup, mereka percaya bahwa dunia penuh dengan kebaikan dan keadilan. Oleh karena itu mereka sangat mudah percaya pada orang lain, karena merasa bahwa semua orang adalah baik. Harapan, kenaifan dan optimistik adalah ciri khas dari individu innocent, mereka sadar bahwa kebahagiaan datang dari menghidupkan hal-hal sederhana.
Jika dihadapkan pada masalah, mereka biasanya akan menghadapinya dengan berpikir positif, atau melihat sebuah masalah sebagai sebuah kesempatan. Menyelesaikan dengan strategi tradisional, misalnya mencari ahlinya untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan, sementara tetap berpegang pada kepercayaan bahwa masalah pasti terselesaikan, dan kepercayaan bahwa akan ada orang lain yang bersedia membantu menyelesaikan masalah.
Individu dengan archetype innocent cenderung memperhatikan kebaikan, apa yang dapat dipercaya dan bermanfaat dalam hidup dan dalam diri orang lain, dan mereka melupakan adanya sisi bahaya, ancaman dari orang lain, dan bagaimana sulit dan kerasnya hidup untuk orang lain.
Innocent mempunyai kecenderungan menyepelekan dan menyederhanakan masalah dan kesulitan sehingga tekadang melewatkan banyak masalah, dan hal-hal kecil yang sebenarnya penting untuk diselesaikan atau ditangani. Optimis berlebih dan sangat percaya diri bahwa sebuah masalah pasti dapat diselesaikan dengan baik, terlalu percaya dan bersandar pada orang lain, sehingga kadang membuat orang lain merasa terbebani atau bahkan mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan dari innocent.
Innocent biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana seseorang yang baik dapat dengan sukses bernegosiasi dengan tantangan, konflik dan masalah, dengan kombinasi antara keberuntungan, nasib baik, ketekunan, dan optimistic dalam mencapai sesuatu. Cerita-cerita tersebut biasanya dapat ditemukan dalam film, misalnya Forrest Gump.
Tipe kepemimpinan innocent adalah mereka sangat baik dalam memberikan inspirasi pada orang lain, dapat mengidentifikasi kesempatan dengan baik, mempertahankan keriangan dan semangat dalam memimpin.
Kebutuhan dasar: adalah untuk tetap mempertahankan harapan, walaupun dalam keadaan sesulit apapun. Innocent juga mempunyai kebutuhan untuk selalu dilihat baik dan positif oleh sekitar, sehingga mereka biasanya menghindari hal-hal yang dapat membuat mereka terlihat buruk, atau merugikan orang lain.
The Orphan
Individu dengan archetype orphan adalah individu yang akrab dengan masalah dan tragedi, sehingga mereka sangat terbiasa dan mengetahui dengan pasti bagaimana bertahan dari masalah, dan kekecewaan dalam hidup. Oleh karena itu mereka biasanya merasa hidup adalah tidak mudah, demikian pula hidup orang lain, sehingga mereka biasanya mempunyai empati yang tinggi akan orang-orang yang membutuhkan bantuan atau yang sama keadaannya dengan mereka.
Jika dihadapkan pada masalah, mula-mula mereka akan berpikir bahwa ini dia masalah yang memang akan selalu datang pada mereka, hal ini memicu perasaan putus asa, atau bahkan sebaliknya akan memberikan kepercayaan diri bahwa ini adalah sesuatu yang biasa terjadi sehingga orphan biasanya percaya bahwa mereka sudah sangat tanggap dalam menghadapi situasi buruk. Kemudian orphan akan mengartikulasi masalahnya dengan teliti dan jelas, menekankan bahwa ini adalah sesuatu yang harus diselesaikan karena jika tidak akan menjadi masalah yang lebih serius, dan pada akhirnya akan bekerja dan berusaha sendiri maupun dengan orang lain untuk mendapatkan perhatian dari orang yang biasa menyelesaikan masalah tersebut. Menyadari bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan, orphan akan berusaha untuk menolong orang lain dalam coping dengan masalah yang dihadapi.
Individu dengan archetype orphan cenderung berhati-hati dalam memperhatikan dan menyimpulkan karakter seseorang sebelum individu orphan tersebut meletakkan kepercayaan pada seseorang. Orphan juga mempunyai kecenderungan terlalu berhati-hati dalam melangkah karena mereka merasa semuanya bisa saja berjalan tidak baik dan menjadi masalah dan kesulitan baru, sehingga hal ini kadang membuat orphan melewatkan kesempatan-kesempatan, terutama yang berasal dari sumber yang tidak terduga, dengan cara yang tidak terduga.
Individu orphan juga mempunyai kecenderungan untuk menjadi sinis, ketakutan untuk percaya akan orang lain, karena mereka merasa terlalu sering dikecewakan oleh orang lain, hal ini membuat mereka enggan juga bersandar pada orang lain, atau mengandalkan orang lain dalam membantu dan mendukung mereka. Hal tersebut kadang membuat orphan menjadi individu yang dingin atau bertindak menyakiti orang lain karena mereka selalu mempunyai pembenaran bahwa hidup dan sekitar bukanlah sahabat.
Orphan biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana di dalamnya terdapat trauma, pengkhianatan, dan korban, sehingga dari situ akan ada seseorang yang belajar untuk terbiasa dan menghadapi masalah dan bertahan dari kesulitan. Individu orphan juga biasanya tertarik pada cerita yang berakhir tragis, dan mempunyai jalan cerita yang sinis, dalam menolong orang lain. Contoh film dengan cerita tersebut adalah Braveheart, North Country, atau Double Joepardy.
Tipe kepemimpinan orphan adalah realistis akan apa saja yang dapat diselesaikan, tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak mampu diselesaikan, selain itu mereka baik dalam mengidentifikasi masalah, dan menyampaikan masalah yang sedang terjadi. Sebagai pemimpin, orphan akan menjadi pemimpin yang penuh empati, namun tidak akan membiarkan mereka menggunakan alasan-alasan untuk lari dari tugas.
Kebutuhan dasar: adalah untuk mengantisipasi kesulitan sehingga dapat membuat masalah atau kesulitan itu berlalu dari hidup, dan juga kebutuhan untuk dilihat sebagai individu yang realistis, kuat dalam bertahan menghadapi masalah apapun, sehingga biasanya orphan sangat menghindari kesan naïf dalam diri dan kesan rentan akan dimanfaatkan dan ditipu.
The Warrior
Individu dengan archetype warrior adalah individu yang berusaha untuk menunjukkan apa artinya dan bagaimana jika seseorang mempunyai keberanian sejati, dan kemauan. Biasanya orang-orang dengan archetype warrior mempunyai atau berkeinginan untuk mempunyai kemampuan untuk membela idealisme yang dianut, untuk membela diri sendiri, sesama, dan melakukan apapun untuk sukses, terlepas dari perasaan takut dan lelah yang harus dihadapi, seorang warrior akan berusaha mencapai tujuan tersebut. Warrior sangat menikmati kompetisi.
Jika dihadapkan pada masalah, warrior akan langsung menghadapi masalah tersebut, dan melakukan pembelaan, dalam melihat sebuah masalah, warrior mempunyai kecenderungan untuk mengidentifikasi musuh atau antagonis yang dilihat sebagai penyebab masalah, dan warior akan merencanakan untuk mengalahkan musuh tersebut dengan mengembangkan strategi.
Individu warrior mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan adanya ketidakadilan, tantangan, dan antagonis di sekitarnya, serta mengunakan strategi untuk mencapai tujuan, dan mengevaluasi kelemahan dalam diri atau situasi tersebut. Kelemahan yang kadang mucncul adalah warrior biasanya tidak dapat mengidentifikasi bakat dan kontribusi dari orang-orang yang di mata individu tersebut adalah orang lemah, atau inferior. Individu warrior juga cenderung melihat dunia ini sebagai sesuatu yang hitam atau putih, mereka menghindari wilayah abu-abu, dan melihat orang lain yang berbeda pendapat sebagai seseorang yang salah atau negatif. Dikarenakan individu warrior sangat menikmati kompetisi, mereka mempunyai kecederungan terperangkap dalam kompetisi, sehingga semua situasi dianggap kompetisi yang harus dimenangkan, hal ini terkadang membuat individu melupakan batas diri, sehingga terjadi kelelahan, kesulitan untuk memperhatikan diri, mungkin dikarenakan individu warrior menghindari diri untuk menyadari adanya kelemahan, kebutuhan, dan batas.
Warrior biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana jelas antara kekalahan dan kemenangan, adanya kompetisi dalam mencapai kemenangan, bentuk kompetisinya dapat berupa olahraga, transaksi bisnis, perang, dan lain-lain. Warrior juga tertarik pada plot cerita dimana figur pahlawan membela yang lemah, menyelamatkan yang lemah atau menyelesaikan sebuah masalah yang besar dan pelik. Contoh film dengan plot cerita diatas misalnya Superman, Saving Private Ryan, Rocky.
Tipe kepemimpinan warrior adalah selalu memastikan adanya tujuan akhir atau gol dan bagaimana implementasinya dalam pencapaian gol tesebut, memotivasi tim untuk memberikan yang terbaik.
Kebutuhan dasar: adalah berkompetisi, orientasi tujuan atau berjuang dan berkemauan mencapai tujuan dengan mengembangkan strategi, menghindari kekalahan, atau menjadi pengecut, berjuang memberikan yang terbaik dari diri. Warrior selalu ingin dilihat sebagai seseorang yang kuat, kompeten, berkemauan dan terkontrol, serta mereka menghindari untuk terlihat lemah, dan rapuh.
The Caregiver
Individu dengan archetype caregiver adalah individu penuh dengan cinta dan kepedulian dalam membantu sesamanya, individu dengan archetype ini melihat sesamanya dengan sisi kebaikan, menyayangi, dan memaafkan. Mereka biasanya membuat dunia menjadi tempat lebih aman dan lebih nyaman untuk semua orang. Dalam relasinya dengan orang lain, mereka cenderung berperilaku seperti orang tua yang penyayang, membuat lingkungan yang sehat, aman dan nyaman untuk sesama. Dalam menolong, caregiver memberikan yang terbaik sehingga terkadang mereka melupakan batas diri mereka, menyepelekan kondisi fisik mereka untuk menolong sesama. Keinginan menolong mereka yang tinggi, kadang mengakibatkan ketergantungan dari korban.
Jika dihadapkan pada masalah, caregiver akan focus untuk mencari siapa korban yang terluka, dan akan melakukan apapun yang dapat dilakukan untuk menolong si korban. Biasanya mereka akan menyediakan kenyamanan dan bimbingan emosi, menenangkan, membimbing, dan membangun situasi dan hubungan yang terpelihara dan nyaman.
Individu dengan archetype caregiver cenderung memperhatikan masalah-masalah dan isu-isu yang berkenaan dengan kehidupan emosional dan fisik, misalnya kemiskinan, kesehatan masyarakat, dan bagaimana manusia saling menyakiti satu sama lain. Mereka akan segera mengambil tindakan atas masalah dan isu tersebut, memfokuskan diri pada stretegi dan sumber-sumber yang bisa memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kecenderungan negatif dari caregiver adalah biasanya mereka dapat menggunakan control manipulatifnya untuk membuat orang melakukan apa yang terbaik menurut caregiver tersebut.
Caregiver biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana seseorang yang baik dan memberi, menunjukkan keroyalannya dalam membantu dan membuat perbaikan yang nyata dan besar, dan dimana pada akhirnya orang-orang akan kembali menunjukkan rasa syukur dan terima kasih mereka pada caregiver tersebut. Atau cerita dimana caregiver belajar menyeimbangkan antara kepedulian pada diri sendiri dan pada orang lain. Contoh dari cerita-cerita tersebut dapat dilihat pada film Mother Theresa, Pay It Forward, atau World Trade Center.
Tipe kepemimpinan caregiver adalah mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menjaga siapapun yang mereka pimpin, mereka mempunyai kemampuan natural untuk memberikan servis terbaik, karena rasa menyayangi dan peduli akan orang lain, karena itu caregiver akan sangat mudah memenangkan kepercayaan dari berbagai pihak.
Kebutuhan dasar: adalah dilihat sebagai seseorang yang royal, peduli, dan baik, menghindari untuk terlihat egois, dan mementingkan diri sendiri. Mengekspresikan rasa sayang, peduli, menolong, memelihara, dan membuat perubahan yang baik bagi sesamanya.
The Seeker
Individu dengan archetype seeker adalah individu yang mandiri, berjiwa petualang, dan senantiasa mengetahui bagaimana memenuhi keinginan dirinya, selalu mencari pengalaman baru, menguji batas diri atas apa yang mungkin ditemukan dan dilakukan. Biasanya seeker menghindari konformitas, mencari identitas dan jati diri sesungguhnya dari diri, dan berusaha memaksimalkan potensi diri, berambisi, apapun tujuan yang ingin dicapai, seeker akan mengutamakan pengembangan diri, dan penemuan diri dalam mencapai tujuan tersebut.
Jika dihadapkan pada masalah, seeker mempunyai kecenderungan untuk lari meninggalkan masalah mereka. Namun seeker adalah individu yang baik dalam mengamati sekitar dan mencari ide-ide baru, atau pendekatan-pendekatan dalam menyelesaikan masalah tersebut, memberikan solusi baru yang berbeda dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Individu seeker mempunyai kecenderungan untuk menghindari komitmen dan menjadi terikat, karena keinginan untuk bebas dan mandiri. Dalam kelompok, seeker terfokus untuk menjadi berbeda, sehingga dalam usaha menghindari konformiti terkadang seeker dapat melangkah terlampau jauh, sehingga dipandang sekitar menjadi seeorang yang eksentrik, kadang tidak sesuai, beberapa dari mereka kadang dapat berakhir sendiri dan kesepian, karena keinginan untuk menjadi berbeda dan unik.
Seeker biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana terdapat petualangan, perjalanan dari seorang petualang, yang dalam petualangan tersebut menemukan sesuatu yang berbeda, diluar bayangan. Cerita dimana petualang tersebut menikmati perjalanannya, dan pada akhirnya petualang tersebut menemukan sesuatu yang baru, dan juga menemukan jati dirinya dan menjadi orang yang lebih baik, dan bahkan menularkan sesuatu yang positif pada orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan. Contoh cerita-cerita tersebut dapat ditemukan dalam film Indiana Jones, Da Vinci Code, King Arthur dalam pencarian cawan.
Sebagai seorang pemimpin, seeker adalah seorang individu yang sangat mandiri, dan individualis, berjiwa petualang, sehingga bersedia menerima dan mencoba ide-ide baru, juga memberikan orang lain privasi dan otonomi selama itu tidak disalahgunakan dan tetap menunjukkan hasil.
Kebutuhan dasar: adalah mencari sesuatu yang baru, unik, dan eksotis, terus melihat jauh ke depan, menemukan apa yang belum terpuaskan dalam diri, dan menjadikan ketidakpuasan itu sebagai motivasi, dan bekal untuk melanjutkan petualangan mencari hal-hal baru. Kebutuhan untuk menjadi unik, berbeda dan tidak biasa.
The Lover
Individu dengan archetype lover adalah individu yang penuh dengan cinta untuk orang lain dalam hidupnya, membalas afeksi sesama dengan cinta yang lebih, dan menikmati kegiatan-kegiatan menyayangi dan berbagi cinta, baik terhadap anak-anak, hewan, keindahan, maupun benda. Lover juga sangat pandai dalam menciptakan suasana yang romantis, dan indah, dimana situasi dan suasana menjadi terasa spesial. Lover berbeda dengan caregiver, karena cinta dan sayang yang diekspresikan oleh lover adalah rasa cinta dan sayang terhadap sesama terlepas dari apakah orang tersebut membutuhkan atau tidak, bukanlah rasa cinta dan sayang terhadap seseorang yang membutuhkan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa caregiver cenderung menuangkan rasa sayangnya kepada orang yang dianggap membutuhkan.
Jika dihadapkan pada masalah, lover akan memberikan perhatian pada kualitas dari hubungan, bagaimana sebuah hubungan telah dihadapkan pada situasi yang buruk, dan lover biasanya akan mencari cara bagaimana untuk memperbaiki hubungan tersebut dengan komunikasi, atau membantu sebagai pendengar apa yang mengganggu sebuah hubungan, kemudian akan kembali berusaha mengembalikan hubungan yang baik. Selain itu biasanya lover juga cenderung membuat orang yang sedang menghadapi masalah untuk menjadi seseorang yang lebih menarik, dan lebih baik, karena lover percaya bahwa semua masalah dapat dipecahkan jika saja orang dapat membuka hati mereka, kembali bergaul dan mencintai lebih lagi.
Individu dengan archetype lover cenderung memperhatikan orang, obyek, aktivitas, seting, maupun pengalaman yang membutuhkan dan menimbulkan cinta, gairah, dan sensualitas, biasanya sesuatu yang indah, romantis, artistik, dan sesuatu yang memiliki kualitas. Biasanya ada kecenderungan dimana lover akan melewatkan sesuatu yang hanya mempunyai daya guna, namun tidak indah, anggun, maupun mempesona. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengasingan terhadap sesuatu yang dianggap tidak cantik, dan tidak indah, di lain pihak, lover akan memfavoritkan hal-hal tertentu saja.
Lover biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita cinta, dengan plot romantis, yang berkenaan dengan komitmen, atau pengorbanan atas cinta dan komitmen. Contoh film-film tersebut misalnya Casablanca, Chocolate, Titanic.
Tipe kepemimpinan lover adalah karismatik, penuh gairah atas apa yang dipimpinnya, jika lover mencintai pekerjaannya maka akan timbul antusiasme yang besar, sehingga orang yang dipimpinnya akan terpicu untuk bekerja lebih keras dan mendapatkan kepuasan atas pekerjaan tersebut. Pemimpin dengan archetype lover juga pandai untuk membuat tim menjadi solid, dan berteman.
Kebutuhan dasar: adalah mengekspresikan cinta, melihat semua hal dengan kacamata cinta, dilihat sebagi individu yang menarik secara fisik dan dalam segala aspek, sehingga dicintai banyak orang.
The Destroyer
Individu dengan archetype destroyer adalah individu yang mengerti bagaimana mengatasi sebuah kehilangan dengan kerelaan, dan kembali maju melanjutkan hidup. Individu dengan archetype ini juga tanpa kesulitan yang teramat, dapat menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan lama, aktivitas-aktivitas lama yang dianggap sudah tidak produktif atau memenuhi lagi. Dengan kata lain, individu dengan archetype destroyer adalah individu yang mengerti kapan harus melepaskan sesuatu, mengambil tindakan keras untuk mengakhiri sesuatu, meniupkan peluit ketidakadilan, dan memusnahkan sesuatu yang dianggap sudah tidak produktif dan berguna lagi.
Jika dihadapkan pada masalah, terutama yang menghancurkan, dan membutuhkan kerelaan untuk melepas, pertama-tama destroyer juga merasakan ketakutan dan kebingungan, memicu pertanyaan-pertanyaan mendalam dan mendasar mengenai sebuah masalah. Namun, biasanya individu destroyer pada akhirnya akan mencoba mengeluarkan kebijaksanaan atas apa yang terjadi, untuk mengubah sesuatu yang bisa dirubah dan menerima sesuatu yang tidak dapat dirubah, membuka diri atas perubahan lewat pengalaman baik pengalaman baik maupun pengalaman buruk. Jika destroyer mengidentifikasi ada yang salah, maka mereka biasanya cenderung akan mengambil alih peran untuk membuat perubahan, kadang individu ini juga merasa ingin mempertahankan sesuatu, namun hal tersebut dipertimbangkan ulang dan jika dianggap lebih baik melepaskan, individu ini akan memilih untuk melepaskan.
Individu dengan archetype destroyer cenderung memperhatikan sesuatu yang berkenaan dengan krisis dan masalah yang ditunda, bagaimana mereka biasanya akan membuat strategi untuk mencapai keseimbangan, dan tidak menunda dalam penyelesaian masalah terutama yang berkenaan dengan melepaskan dan perubahan. Destroyer juga mempunyai kecenderungan untuk membuat pembenaran atas pelanggaran norma yang dilakukan, merasionalisasikan segalanya, hal ini dapat menyakiti orang lain, merusak sesuatu, dan berefek buruk pada orang banyak, jika kesulitan mengkontrol drorngan impulsive dalam diri.
Destroyer biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana terjadi tranformasi dikarenakan penderitaan, mematahkan aturan dan norma untuk kebaikan, dan film-film revolusioner. Contoh film-film tersebut adalah Robin Hood, Zorro, Ghandi. Dan juga film-film dengan visualisasi kekerasan, destruktif, adegan pengejaran, ledakan, dan sliderakan, misalnya film Mission Imposible, independence day, dan film action lainnya.
Tipe kepemimpinan destroyer adalah mempunyai kemampuan yang baik dalam reorganisasi sebuah kelompok atau organisasi, mengakhiri program yang tidak menghasilkan, memecat karyawan yang tidak produktif.
Kebutuhan dasar: adalah menyelesaikan masalah dan membiarkan hal tersebut lewat menjadi masa lalu, membuat perubahan dari sebuah masalah yang dihadapi. Individu dengan archetype destroyer biasanya ingin dilihat sebagai seseorang yang kuat, sehingga biarpun sedang mengalami masa sulit, biasanya destroyer tidak akan berbagi dengan orang lain, dan akan menyimpannya sendiri.
The Creator
Individu dengan archetype creator adalah individu yang penuh dengan imajinasi dan aspirasi, dan kemampuan diri creator biasanya mendukung individu dengan archetype creator untuk merealisasikan imajinasi, kreatifitas, dan aspirasinya dengan kemudahan. Individu ini biasanya mempunyai saat-saat dimana ide mengalir begitu saja, dan kreatifitas menjadi hal yang tidak sulit dan tanpa usaha untuk dikeluarkan dalam menghasilkan sesuatu. Individu ini juga biasanya mempunyai selera estetik yang berkembang dengan baik, dan dikelilingi oleh benda-benda yang mencerminkan selera tersebut sebagai bentuk ekspresi diri. Melihat hidup sebagai pekerjaan seni, dimana creator akan menghindari hal yang biasa, dangkal, dan akan memenuhi kepuasan diri dengan caranya, walaupun dengan cara tersebut kadang tidak dimengerti oleh orang lain.
Jika dihadapkan pada masalah, creator akan mencari inspirasi secara garis besar bagaimana untuk meredakan masalah tersebut, memutuskan apa yang harus dibuat untuk mengembalikan semua ke keadaan yang baik, atau harus memilih langkah inovatif lainnya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Atau cara lainnya adalah mengubah fokus diri dari masalah dengan mengambil proyek atau pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, sementara memegang kepercayaan bahwa jawaban dari masalah akan datang dengan proses, sehingga selama proses tersebut, biarkan creator menghasilkan sesuatu dengan kemampuannya.
Individu dengan archetype creator cenderung memperhatikan kebutuhan untuk penemuan baru atau interpretasi atas sebuah hal yang sulit dimengerti. Creator juga focus kepada sumber-sumber yang dapat membantu meningkatkan keahlian creator dalam inovasi dan kreatifitas. Individu creator juga biasanya kritis dalam melihat sesuatu, dapat dengan mudah menemukan kekurangan akan suatu hal di diri sendiri maupun di orang lain atau di sebuah masalah, yang terkadang membuat perasaan kurang puas, kurang percaya pada sumber lain, dan dengan hidup.
Creator biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana menceritakan kehidupan dan penemuan akan sesuatu, misalnya cerita kehidupan seorang artis, penemu, atau pengusaha dimana dengan imajinasi mereka menciptakan sesuatu yang dikagumi. Cerita-cerita demikian biasanya ditampilkan dalam biografi seseorang atau film yang menceritakan kisah hidup seseorang, misalnya: Catch Me If You Can.
Tipe kepemimpinan creator adalah individu yang berjiwa pengusaha, inovatif, dan tidak terikat pada norma atau aturan keras dan ekstrim lainnya.
Kebutuhan dasar: adalah merealisasikan sesuatu yang inovatif, dari kreatifitas dan inspirasi diri, menciptakan sesuatu untuk diri sendiri, maupun orang lain. Terlihat sebagai seseorang yang praktikal, dan dipercaya mempunyai kemampuan untuk membuat sesuatu yang dibutuhkan dunia. Jadi biasanya creator akan menghindari melakukan sesuatu yang tipikal, dan biasa.
The Ruler
Individu dengan archetype ruler adalah individu yang akan mengambil alih sesuatu hal jika dilihat sesuatu telah berantakan dan tidak terkontrol, sehingga individu mengambil kontrol atas situasi tersebut. Seperti pemimpin yang baik, ruler akan mengutamakan apa yang baik untuk orang-orang yang mengikutinya, mengembangkan rasa tanggung jawab diri dalam menciptakan kondisi yang menguntungkan setiap orang. Mereka biasanya percaya bahwa sistem masyarakat yang teratur dan sehat tidak terjadi begitu saja, butuh seseorang yang bersedia bertanggung jawab atas terciptanya hal tersebut. Ruler tidak saja bersedia menjadi orang tersebut, namun juga mengumpulkan orang lain dan membimbing serta melatih mereka untuk membantu individu tersebut dalam mewujudkan keteraturan sistem yang tidak terkontrol.
Jika dihadapkan pada masalah, ruler akan mencoba menyelesaikan masalah sesuai dengan aturan, prosedur, dan sistem yang berlaku, tidak hanya berpikir bahwa masalah tersebut harus diselesaikan, namun juga masalah yang serupa dan juga menghindari terjadinya masalah serupa di masa yang akan datang. Sebagai penanggung jawab, ruler akan memonitor jalanannya penyelesaian masalah, dan juga menghindari terjadinya situasi yang lebih rumit dan lebih buruk terutama dikarenakan orang-orang yang dipimpinnya.
Individu dengan archetype ruler tahu bagaimana menggunakan status, tampilan dan prestise untuk mengintensifkan kekuatannya dan sebagai hasilnya, individu sangat memperhatikan bagaimana tampilan individu dihadapan orang lain dan dalam konteks yang pantas (sebagai contoh, tidak berpakaian berlebihan pada saat mengunjungi program untuk orang miskin). Individu mungkin gagal untuk mendeteksi masukan yang penting dari orang-orang yang memiliki status yang rendah atau bahkan yang tidak mempunyai status. Ruler juga dapat salah menginterpretasikan perbedaan opini sebagai ancaman terhadap kekuatan mereka, dan menaruh banyak aturan pada tempat yang mereka ciptakan.
Ruler biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana terdapat konflik dimana seseorang menerima atau menyangkal tanggung jawab untuk membangun atau menangani sebuah kerajaan, seperti misalnya Lion King, atau Elizabeth. Ruler menyadari bahwa menerima beban untuk mengurus sebuah keluarga, organisasi, atau kelompok adalah sebuah tanggung jawab yang besar, oleh karena itu sangat menikmati pembelajarn dari kisah kepemimpinan sukses orang lain. Di sisi lain ruler juga menikmati kisah dimana terjadi pengambil alihan sebuah kerajaan yang sedang dalam perpecahan, membuat kerajaan tersebut menjadi kembali damai dan harmonis.
Sebagai pemimpin, ruler sangat baik dalam meletakkan struktur, aturan, dan prosedur pada wilayahnya sehingga lebih teratur dan efisien. Individu dengan archetype ruler juga baik dalam jaringan sosialisasi, dan proses penyelesaian sebuah proyek. Individu ini baik dalam tanggung jawab sekalipun dihadapkan pada tugas atau situasi yang tidak menyenangkan.
Kebutuhan dasar: adalah mengambil alih dan kontrol, serta menyelesaikan sebuah masalah atau proyek. Individu ruler ingin dilihat sebagai individu yang dapat memimpin secara natural, dimana pada akhirnya orang-orang akan dengan sukarela menjadi pengikut, menghindari diri supaya terlihat lemah, dan rapuh, dan menghindari melakukan sesuatu yang terlalu tegas atau keras.
The Magician
Individu dengan archetype magician adalah individu yang karismatik, dan mempunyai kemampuan natural seakan-akan dapat menyembuhkan dan menenangkan sesuatu yang terpecah belah, menyatukan orang-orang di balik sebuah visi yang sama, dan visi tersebut masih dalam batasan real. Individu magician percaya bahwa struktur kesadaran yang memegang kendali atas apa yang terjadi dalam hidup, biasanya sangat memegang teguh pada kesadaran diri, doa, meditasi, dan metode tertentu lainnya dalam mempertahankan dan mencapai tujuan diri. Pada dasarnya, individu magician percaya bahwa kejadian buruk mungkin saja dialami atau diketahui oleh manusia, yang terpenting adalah bagaimana manusia dengan kecerdasannya mencoba mengerti dengan cara menyeimbangkan antara pikiran, alam, dan roh.
Jika dihadapkan pada masalah, hal pertama yang akan dilakukan oleh individu ini adalah mengubah cara bersikap, memperluaskan prespektif diri, dan menyesuaikan sikap diri untuk menciptakan efek yang dapat mengubah keseluruhan sistem. Individu ini juga biasanya langsung menggambarkan situasi atas sebuah masalah, dan memikirkan bagaimana caranya untuk membantu dengan solusi selama solusi tersebut dipercaya tulus dan baik, maka magician percaya masalah akan dapat diselesaikan.
Individu dengan archetype magician cenderung memperhatikan hal-hal kecil, dan kebetulan kemudian memberikan arti pada kejadian tersebut. Individu ini juga tertarik pada bagaimana sesuatu terjadi secara metafisika atau spiritual dan juga menurut prespektif sains. Terkadang hal ini membuat individu terlihat melewatkan sesuatu yang nyata, dan terlihat kehilangan akal sehat karena ketertarikannya pada prespektif spiritual.
Individu magician juga mempunyai kecenderungan untuk percaya terlalu berlebih pada hal-hal spiritual karena keinginan mereka untuk mempunyai sebuah kekuatan spiritual dan magis. Magician juga biasanya dapat menggunakan karismanya untuk memanipulasi orang lain dan menyenangkan orang lain dengan ekspektasi yang berdasarkan kepercayaan dan prespektif spiritual yang dipercaya oleh magician.
Magician biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana terdapat cerita atau dongeng magis dimana terdapat kekuatan kekuatan magis yang digunakan untuk menaklukkan kejahatan atau mengubah situasi. Cerita-cerita seperti ini dapat ditemukan di film-film sepeti Harry Potter, tokoh Gandalf dalam Lord Of The Ring, atau tokoh Merlin dalam Camelot Legends. Individu magician juga menikmati cerita-cerita dimana terdapat individu dengan tugas membawa keajaiban, atau tugas-tugas yang membantu orang banyak, sehingga mereka terisolasi, namun akhirnya menemukan cintanya atau komunitasnya, seperti contoh cerita Chocolate, dan Amelie.
Tipe kepemimpinan magician adalah mempunyai kemampuan untuk memberikan energi pada orang lain dengan cara menginspirasikan mereka untuk jujur dan mengetahui apa mimpi dan tujuan terdalam dan sejati yang ada dalam diri, dan bagaimana bekerja sama untuk mengeluarkan mimpi dan tujuan tersebut menjadi nyata, seperti contoh tokoh Martin Luther King Jr.. Individu magician juga baik dalam mempertahankan fleksibilitas dari struktur dan perilaku tanggung jawab dan respon dari bawahannya. Individu dapat membentuk kerjasama yang sinergis dimana keseluruhan lebih baik daripada beberapa.
Kebutuhan dasar: adalah mempunyai visi, dan bekerjasama bagaimana mewujudkan visi tersebut menjadi realitas. Individu Magician selalu ingin dilihat sebagai individu yang berkarisma dan mempunyai visi, namun juga sedikit misterius dan tidak tertebak.
The Sage
Individu dengan archetype sage adalah individu yang tidak hanya mempunyai banyak pengetahuan, namun juga bijaksana, individu ini mempunyai rasa keingintahuan dan senang sekali memikirkan sesuatu, berjuang untuk memberikan opini pada suatu hal dengan meminimalisir bias diri atas opini tersebut, berusaha sebaik mungkin untuk menjadi obyektif dan seadil-adilnya dalam melihat dan memikirkan sesuatu. Motivasi yang mendasari individu ini adalah kelaparannya atas kebenaran. Individu ini sangat tanggap melihat suatu pola yang terjadi dari sebuah kejadian atau hal, mereka sadar dan memperhatikan jika terjadi kesalahan atau hilangnya sebuah logika, atau alasan yang mendasari sebuah hal. Individu ini menyadari bahwa kebenaran tidak akan dapat diketahui secara keseluruhan, namun mereka tetap berjuang mencari kebenaran yang relatif, individu ini juga biasanya mempunyai pembawaan yang tenang dan tidak sembrono.
Jika dihadapkan pada masalah, sage akan mencari tahu bagaimana orang lain menyampaikan masalah tersebut, berdasarkan hal tersebut sage akan mencari tahu bagaimana proses terbaik yang mungkin dapat digunakan untuk memikirkan masalah tersebut supaya terpecahkan, mencari jawaban, dan akhirnya mangambil langkah penyelesaian. Setelah itu sage akan melihat kembali proses penyelesaian tersebut dann melakukan evaluasi.
Individu dengan archetype sage cenderung lambat dalam memberikan respon terhadap sebuah situasi, kecuali situasi darurat, karena sage sadar adalah sangat beresiko saat seseorang mengambil tindakan tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan dahulu dengan lebih matang. Secara natural, sage sangat menyukai konsep berpikir dan penemuan ide, sehingga sage cenderung tidak tertarik pada hal-hal yang tidak mengandung intelektualitas.
Sage biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita yang dimulai dengan fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang memancing rasa ingin tahu atau keadaan yang belum jelas sama sekali. Kemudian muncul sisi bijaksana dari dalam diri tokoh utama yang pada akhirnya menemukan kebenaran. Oleh karena itu biasanya sage menyukai kisah-kisah misteri, biografi, dan sejarah, yang di dalamnya terdapat proses penemuan. Selain itu sage juga tertarik dengan cerita-cerita dimana tokoh utama adalah seorang pengajar yang memberikan pengaruh melalui pengajaran, bimbingan, atau pemberitahuannya kepada generasi selanjutnya.
Tipe kepemimpinan sage adalah tipe analisa, perencana, evaluasi, dan membuat keputusan terencana yang baik, saat yang lainnya panik, sebagai pemimpin sage tetap dapat bertindak hati-hati, menangkap gambaran besar, berpikir jauh ke depan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Sage mempunyai kemampuan untuk membawakan ketenangan dalam suasana panik, dan dibawah kepemimpinan sage, semua kejadian berjalan maju ke depan, terukur dengan baik, dan disadari dengan baik bahwa hal yang benar telah dilakukan dengan jalan yang benar.
Kebutuhan dasar: adalah memenuhi keingintahuannya yang besar atas sebuah kebenaran, memberikan opini dan cara pandangnya atas sesuatu. Selain itu sage juga ingin dilihat sebagai individu yang pintar, dan tanggap dalam mempersepsikan sesuatu, sehingga sage menghindari untuk terlihat tidak peduli terhadap sesuatu.
The Jester
Individu dengan archetype jester adalah individu yang selalu terlihat senang, lucu, dan menyenangkan jika jester ada di sekitar, jester biasanya yang memicu suasana senang terjadi dalam hidup untuk orang-orang sekitar. Mengajarkan pada orang-orang bagaimana untuk menikmati waktu sekarang, menjadi senang, dan menikmati hidup, walaupun sedang dalam situasi sulit dan tegang. Sementara orang-orang mengalami rasa takut dan cemas akan perubahan yang harus mereka hadapi dalam hidup, jester merasakan adanya rasa senang dan semangat yang teramat sangat atas perubahan tersebut. Jester biasanya menyampaikan sesuatu dengan humor, karena Jester sangat menikmati dan puas jika membuat orang lain tertawa, namun terkadang untuk keadaan tertentu, hal tersebut tidak dapat diterima oleh orang lain
Jika dihadapkan pada masalah, Jester berpikir dari luar kotak, mempunyai trik-trik dan manuver-manuver bagaimana membuat orang lain membantu jester untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun dalam diri jester, individu juga mencari jalan untuk menghadapi masalah tersebut, namun biasanya jalan tersebut adalah jalan yang menyenangkan hati individu, misalnya memesan makanan favorit supaya dapat bekerja semalaman suntuk.
Individu dengan archetype jester cenderung memperhatikan bagaimana tetap bersenang-senang di situasi yang berbeda-beda, cara pintar bagaimana membuat halangan menjadi tidak berat di mata individu, dimana akhirnya jester membuat hal tersebut menjadi cerita hidupnya yang lucu dan menjadi cerita pengalaman yang menyenangkan dan menarik. Di lain pihak, Jester mempunyai kecenderungan untuk menjadi individu yang tidak pernah menanggapi segala sesuatu secara serius, bahkan mimpi mereka, karena terdapat kecenderungan untuk tidak bertanggung jawab dan kurang serius.
Jester biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana cerita tersebut penuh dengan permainan, humor, kelucuan, dan menyenangkan. Sebagai badut natural, jester menikmati kisah-kisah yang ringan, mengundang tawa dan terkadang juga satir. Contoh cerita dimana tokoh utama adalah badut yang dicintai banyak orang, namun sukses melewati sebuah masalah atau menolong orang dengan trik-trik fisik dan psikis yang mengundang tawa. Cerita tersebut misalnya Home Alone, Patch Adam.
Tipe kepemimpinan jester adalah baik dalam menyelesaikan kontradiksi, dan masalah dalam sebuah sistem, namun jester tidaklah merasa nyaman menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin. Sehingga karena hal ini biasanya jester mempunyai kecenderungan untuk mengabaikan bawahan, dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.
Kebutuhan dasar: adalah bagaimana menyenangkan hidup dan orang lain, membuat susanan lebih hidup dan penuh dengan humor. Jester ingin dilihat sebagai individu yang menyenangkan, lucu, sehingga individu jester menghindari untuk terlihat membosankan.
Archetype dan Pilihan
Archetype secara umum mengkomunikasikan apa keinginan terdalam dan terdasar dari individu dan dasar motivasi apa yang membuat individu tersebut melakukan sesuatu, dan archetype juga menggambarkan tujuan dan maksud dari hidup seseorang. Walaupun pada dasarnya dalam hidup manusia archetype hanya 12, namun setiap individu mempunyai cara pengekspresian dan gaya yang berbeda dan unik, misalnya seseorang adalah warrior, warrior dalam diri individu A akan berbeda dengan dalam individu B, misalnya dalam individu A adalah warrior berupa relawan di LSM, sedangkan individu B merupakan warrior berupa ibu yang berjuang menjaga anaknya dari kelaparan, dan kedinginan. Kesemuanya adalah Warrior dengan gaya, jubah, dan tujuan yang berbeda. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh budaya, setting lingkungan, dan sejarah dari individu tersebut.
Archetype adalah merupakan acuan keinginan dan kebutuhan terpenting dan terdasar individu, dan tujuannya tergantung dari archetype apa yang dominan, hal ini yang akhirnya menjadi dasar motivasi, dan acuan individu dalam melihat sesuatu, mempertimbangkan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Di sini nampak bahwa archetype mempengaruhi cara berpikir, dan memandang seseorang, oleh karena itu archetype dekat hubungannya dengan pilihan dalam hidup.
Pengukuran Archetype
PMAI (Pearson-Marr Archetype Indicator Instrument) merupakan salah satu alat ukur archetype terstandard untuk mengukur archetype, dan dinilai lebih efektif dan efisien dalam mengukur 12 archetype, lebih mudah dan cepat diandministrasikan, dan juga bahasa dan kata-kata yang digunakan lebih mudah dimengerti. PMAI terdiri dari 72 pertanyaan yang menggambarkan beberapa orang dengan singkat. Subjek harus menjawab seberapa sesuai dirinya dengan orang tersebut. Jawaban diberikan dalam bentuk skala likert, yaitu skala yang terdiri dari beberapa pilihan jawaban dengan derajat intensitas dari sangat sesuai sampai sangat tidak sesuai. Jika individu menjawab 1 untuk item tersebut artinya archrtpe yang diukur oleh item tersebut adalah rendah, semakin besar jawaban individu semakin aktif archetype pada item tersebut, jawaban tertinggi adalah 5. Skoring akan dilakukan dengan menjumlahkan jawaban individu per domain, sehingga didapatkan domain yang mempunyai nilai lebih tinggi daripada domain lainnya, menunjukkan bahwa archetype individu pada domain tersebut lebih dominan daripada archetype pada domain lainnya.
Sumber
Mark, M., Pearson, S. C. (2001). The hero and the outlaw: building extraordinary brands through the power of archetypes. New York: McGraw-Hill.
Pearson, S. C., Marr, H. K. (2002), Introduction to archetypes : a companion for understanding and using the pearson-marr archetype. Florida: Center for Applications of Psychological Type, Inc.
Pearson, S. C. (1991). Awakening the Heroes Within: Twelve Archetypes to Help Us Find Ourselves and Transform Our World. New York: HarperCollins Publishers.
Diambil dari : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian-mainmenu-61/tipologi-kepribadian-mainmenu-62/archetype-mainmenu-64
Selengkapnya...
Kamis, 08 Desember 2011
Psikologi - Kepribadian - Tipologi - Archetype
Psikologi - Kepribadian - Tipologi - Big Five Personality
Oleh Administrator
Big Five Personality merupakan pendekatan dalam psikologi kepribadian yang mengelompokan trait kepribadian dengan analisis faktor. Tokoh pelopornya adalah Allport dan Cattell.
Big Five Personality adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian manusia melalui trait yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis faktor. Lima traits kepribadian tersebut adalah extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences.
Trait-trait dalam domain-domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997) adalah sebagai berikut.
Extraversion (E)
Faktor pertama adalah extraversion, atau bisa juga disebut faktor dominan-patuh (dominance-submissiveness). Faktor ini merupakan dimensi yang penting dalam kepribadian, dimana extraversion ini dapat memprediksi banyak tingkah laku sosial. Menurut penelitian, seseorang yang memiliki faktor extraversion yang tinggi, akan mengingat semua interaksi sosial, berinteraksi dengan lebih banyak orang dibandingkan dengan seseorang dengan tingkat extraversion yang rendah. Dalam berinteraksi, mereka juga akan lebih banyak memegang kontrol dan keintiman. Peergroup mereka juga dianggap sebagai orang-orang yang ramah, fun-loving, affectionate, dan talkative.
Extraversion dicirikan dengan afek positif seperti memiliki antusiasme yang tinggi, senang bergaul, memiliki emosi yang positif, energik, tertarik dengan banyak hal, ambisius, workaholic juga ramah terhadap orang lain. Extraversion memiliki tingkat motivasi yang tinggi dalam bergaul, menjalin hubungan dengan sesama dan juga dominan dalam lingkungannya Extraversion dapat memprediksi perkembangan dari hubungan sosial. Seseorang yang memiliki tingkat extraversion yang tinggi dapat lebih cepat berteman daripada seseorang yang memiliki tingkat extraversion yang rendah. Extraversion mudah termotivasi oleh perubahan, variasi dalam hidup, tantangan dan mudah bosan. Sedangkan orang-orang dengan tingkat ekstraversion rendah cenderung bersikap tenang dan menarik diri dari lingkungannya.
Agreeableness (A)
Agreebleness dapat disebut juga social adaptibility atau likability yang mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang selalu mengalah, menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang lain. Berdasarkan value survey, seseorang yang memiliki skor agreeableness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki value suka membantu, forgiving, dan penyayang.
Namun, ditemukan pula sedikit konflik pada hubungan interpersonal orang yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi, dimana ketika berhadapan dengan konflik, self esteem mereka akan cenderung menurun. Selain itu, menghindar dari usaha langsung dalam menyatakan kekuatan sebagai usaha untuk memutuskan konflik dengan orang lain merupakan salah satu ciri dari seseorang yang memiliki tingkat aggreeableness yang tinggi. Pria yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi dengan penggunaan power yang rendah, akan lebih menunjukan kekuatan jika dibandingkan dengan wanita.
Sedangkan orang-orang dengan tingkat agreeableness yang rendah cenderung untuk lebih agresif dan kurang kooperatif.
Pelajar yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi memiliki tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan keluarga dan jarang memiliki konflik dengan teman yang berjenis kelamin berlawanan.
Neuroticism (N)
Neuroticism menggambarkan seseorang yang memiliki masalah dengan emosi yang negatif seperti rasa khawatir dan rasa tidak aman. Secara emosional mereka labil, seperti juga teman-temannya yang lain, mereka juga mengubah perhatian menjadi sesuatu yang berlawanan. Seseorang yang memiliki tingkat neuroticism yang rendah cenderung akan lebih gembira dan puas terhadap hidup dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tingkat neuroticism yang tinggi. Selain memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan dan berkomitmen, mereka juga memiliki tingkat self esteem yang rendah. Individu yang memiliki nilai atau skor yang tinggi di neuroticism adalah kepribadian yang mudah mengalami kecemasan, rasa marah, depresi, dan memiliki kecenderungan emotionally reactive.
Openness (O)
Faktor openness terhadap pengalaman merupakan faktor yang paling sulit untuk dideskripsikan, karena faktor ini tidak sejalan dengan bahasa yang digunakan tidak seperti halnya faktor-faktor yang lain. Openness mengacu pada bagaimana seseorang bersedia melakukan penyesuaian pada suatu ide atau situasi yang baru.
Openness mempunyai ciri mudah bertoleransi, kapasitas untuk menyerap informasi, menjadi sangat fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai perasaan, pemikiran dan impulsivitas. Seseorang dengan tingkat openness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki nilai imajinasi, broadmindedness, dan a world of beauty. Sedangkan seseorang yang memiliki tingkat openness yang rendah memiliki nilai kebersihan, kepatuhan, dan keamanan bersama, kemudian skor openess yang rendah juga menggambarkan pribadi yang mempunyai pemikiran yang sempit, konservatif dan tidak menyukai adanya perubahan.
Openness dapat membangun pertumbuhan pribadi. Pencapaian kreatifitas lebih banyak pada orang yang memiliki tingkat openness yang tinggi dan tingkat agreeableness yang rendah. Seseorang yang kreatif, memiliki rasa ingin tahu, atau terbuka terhadap pengalaman lebih mudah untuk mendapatkan solusi untuk suatu masalah.
Conscientiousness (C)
Conscientiousness dapat disebut juga dependability, impulse control, dan will to achieve, yang menggambarkan perbedaan keteraturan dan self discipline seseorang. Seseorang yang conscientious memiliki nilai kebersihan dan ambisi. Orang-orang tersebut biasanya digambarkan oleh teman-teman mereka sebagai seseorang yang well-organize, tepat waktu, dan ambisius.
Conscientiousness mendeskripsikan kontrol terhadap lingkungan sosial, berpikir sebelum bertindak, menunda kepuasan, mengikuti peraturan dan norma, terencana, terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Di sisi negatifnya trait kepribadian ini menjadi sangat perfeksionis, kompulsif, workaholic, membosankan. Tingkat conscientiousness yang rendah menunjukan sikap ceroboh, tidak terarah serta mudah teralih perhatiannya.
Trait dan Facets Big Five Personality Costa & McCrae
Faktor
Facet
Extraversion (E)
Warmth (E1)
Kecenderungan untuk mudah bergaul dan membagi kasih sayang
Gregariousness (E2)
Kecenderungan untuk banyak berteman dan berinteraksi dengan orang banyak
Assertiveness (E3)
Individu yang cenderung tegas
Activity (E4)
Individu yang sering mengikuti berbagai kegiatan, memiliki energi dan semangat yang tinggi
Excitement-seeking (E5)
Individu yang suka mencari sensasi dan suka mengambil resiko
Positive emotion (E6)
Kecenderungan untuk mengalami emosi-emosi yang positif seperti bahagia, cinta, dan kegembiraan
Agreeableness (A)
Trust (A1)
Tingkat kepercayaan individu terhadap orang lain
Straightforwardness (A2)
Individu yang terus terang, sungguh-sungguh dalam menyatakan sesuatu
Altruism (A3)
Individu yang murah hati dan memiliki keinginan untuk membantu orang lain
Compliance (A4)
Karakteristik dari reaksi terhadap konflik interpersonal
Modesty (A5)
Individu yang sederhana dan rendah hati
Tender-mindedness (A6)
Simpatik dan peduli terhadap orang lain
Neuroticism (N)
Anxiety (N1)
Kecenderungan untuk gelisah, penuh ketakutan, merasa kuatir, gugup dan tegang
Hostility (N2)
Kecenderungan untuk mengalami amarah, frustasi dan penuh kebencian
Depression (N3)
Kecenderungan untuik mengalami depresi pada individu normal
Self-consciousness (N4)
Individu yang menunjukkan emosi malu, merasa tidak nyaman diantara orang lain, terlalu sensitive, dan mudah merasa rendah diri
Impulsiveness (N5)
Tidak mampu mengotrol keinginan yang berlebihan atau dorongan untuk melakukan sesuatu
Vulnerability (N6)
Kecenderungan untuk tidak mampu menghadapi stress, bergantung pada orang lain, mudah menyerah dan panik bila menghadapi sesuatu yang datang mendadak
Openness (O)
Fantasy (O1)
Individu yang memiliki imajinasi yang tinggi dan aktif
Aesthetic (O2)
Individu yang memiliki apresiasi yang tinggi terhadap seni dan keindahan
Feelings (O3)
Individu yang menyadari dan menyelami emosi dan perasannya sendiri
Action (O4)
Individu yang berkeinginan untuk mencoba hal-hal baru
Ideas (O5)
Berpikiran terbuka dan mau menyadari ide baru dan tidak konvensional
Values (O6)
Kesiapan seseorang untuk menguji ulang nilai-nilai social politik dan agama
Conscientiousness (C)
Competence (C1)
Kesanggupan, efektifitas dan kebijaksanaan dalam melakukan sesuatu
Order (C2)
Kemampuan mengorganisasi
Dutifulness (C3)
Memegang erat prinsip hidup
Achievement-striving (C4)
Aspirasi individu dalam mencapai prestasi
Self-discipline (C5)
Mampu mengatur diri sendiri
Deliberation (C6)
Selalu berpikir dahulu sebelum bertindak
Gambaran karakteristik individu skor tinggi dan rendah ketika diukur
Karakteristik skor tinggi
Skala Trait
Karakteristik skor rendah
Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, aktif , banyak bicara, orientasi pada hubungan sesama, optimis, fun-loving, affectionate. Lembut hati, dapat dipercaya, suka menolong, pemaaf, penurut. Ekstraversion (E) Mengukur kuantitas dan intensitas dari interaksi interpersonal, tingkatan aktivitas, kebutuhan akan dorongan, dan kapasitas dan dan kesenangan. Agreeableness (A) Mengukur kualitas dari apa yang dilakukan dengan orang lain dan apa yang dilakukan terhadap orang lain. Tidak ramah, bersahaja, suka menyendiri, orientasi pada tugas, pendiam. Sinis, kasar, curiga, tidak kooperatif, pendendam, kejam, manipulatif.
Cemas, gugup, emosional, merasa tidak aman, merasa tidak mampu, mudah panik Neuroticism (N) Menggambarkan stabilitas emosional dengan cakupan-cakupan perasaan negatif yang kuat termasuk kecemasan, kesedihan, irritability dan nervous tension. Tenang, santai, merasa aman, puas terhadap dirinya, tidak emosional, tabah.
Ingin tahu, minat luas, kreatif, original, imajinatif, untraditional. Openness to Experience(O) Gambaran keluasan, kedalaman, dan komplek-sitas mental individu dan pengalamannya. Konvensional, sederhana, minat sempit, tidak artistik, tidak analitis.
Teratur, pekerja keras, dapat diandalkan, disiplin, tepat waktu, rapi, hati-hati. Conscientiousness(C) Mendeskripsikan perilaku yang diarahkan pada tugas dan tujuan dan kontrol dorongan secara sosial. Tanpa tujuan, tidak dapat diandalkan, malas, sembrono, lalai, mudah menyerah, hedonistic.
Bacaan:
McCrae, R.R., & Allik, J. (2002). The Five Factor Model of personality across cultures. New York: Kluwer Academic/ Plenum Publishers.
Pervin, L. A. (1993). Personality: theory and research. (Ed. ke-6). Canada: John Wiley & Sons.
Pervin, L. A. (1996). The Science of personality. USA: John Wiley & Sons
Diambil dari : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian-mainmenu-61/tipologi-kepribadian-mainmenu-62/big-five-personality-mainmenu-63
Selengkapnya...
Rabu, 07 Desember 2011
xParanormal Detector v1.5 Pro + Serial + Preactivated
Hey Kawand . . .
Ada yang sudah tau tentang software eXtremeSenses xParanormal Detector v1.5 Pro Edition ini? Yang belum tau, xParanormal Detector v1.5 Pro Edition ini adalah software yang katanya bisa mendeteksi gelombang aneh / elektromagnetik yang ada disekitar kita. Denger-denger sih xParanormal Detector v1.5 Pro Edition ini mirip seperti Ghost Radar yang bisa mendeteksi keberadaan 'gelombang misterius' di sekitar. Benar atau ga, silahkan dicoba sendiri.
Download aja di sini(8 MB)
bila diminta pasword, ketika aja alamat sumber software ini www.dytoshare.us
Bagi yang ga bisa pakai Preactivated-nya, berikut saya beri yang menggunakan Serial. Serial ini original dari DYTOSHARE lho, jadi yang mau share serialnya mohon mencantumkan link Klik aja di sini (5 MB)
Bila dimintai pasword juga, ketik aja sumbernya www.dytoshare.us
Lihat Contoh Gambar Di Bawah Ini :
Okey ! Selamat mencoba . . .
Jangan Lupa Komentarnya Boz !
Trims telah berkunjung . . . . .
Selengkapnya...
Senin, 05 Desember 2011
Panduan Untuk Peneliti Muda
Diterjemahkan oleh Ali Morteza yang diambil dari "Buku Panduan Peneliti Muda"
Pelajaran Sebelas
Tentang ilmu, knower, dan objek yang diketahui
Di sini kita akan bisa mendapatkan dari apa-apa yang sebelumnya, bahwasannya yang diwujudkan itu terbagi menjadi pada dua yakni sesuatu dengan potensialnya dan sesuatu dengan aktualnya. Dan yang pertama adalah sesuatu dengan potensialnya yakni materi dan bahan-bahan, sedangkan yang kedua adalah bukan materi dan juga bukan bahan-bahan, melainkan non materi. Sesuatu yang nonmateri itu ada ilmu, knower, dan objek yang diketahui. Untuk ilmu, akan dijelaskan nanti, sehingga kenapa bisa hadir wujud nonmateri pada wujud nonmateri yang lain. Maka, itu akan masuk dalam bahasan lain, dan kita akan bahas mengenai hal itu pada filsafat yang pertama (Ibn Sina).
Bab Satu
Definisi ilmu dan pembagiannya yang pertama
Hasil ilmu yang kita miliki itu adalah niscaya adanya dan seperti itulah pemahaman ilmu yang ada pada kita. Bahwasannya yang kita inginkan pada bab ini adalah pengetahuan tentang karakteristik ilmu agar kita bisa membedakan dengan pengetahuan pada mishdaq-mishdaq ilmu dan karakteristik mishdaq-mishdaq ilmu.
Maka kita berpendapat : sebagaimana dalam bahasan wujud dalam pikiran (fil dzihniy) bahwasannya kita memiliki ilmu terhadap hal-hal yang ada di luar pikiran (fil kharij) diri kita, bahwasannya hal-hal yang ada di luar pikiran (fil kharij) itu kita bisa dapatkan dan hal-hal yang ada di luar pikiran (fil kharij) itu dapat hadir pada diri kita karena batasan-batasan hal-hal yang ada di luar pikiran (fil kharij) tersebut, bukan karena adanya batasan yang ada di luar pikiran yang mana ia tersusun atas efek-efek padanya. Maka, inilah yang disebut satu jenis ilmu yang disebut dengan ilmu hasil (ilmu hushuliy/mediated knowledge).
Jenis ilmu yang lain itu adalah ilmu yang terpisah dengan kita, ilmu ini tidak kenal dengan diri sendiri, dalam keadaan apapun, sendiri, ramai, tidur, terjaga, sadar, dan keadaan yang lain.
Hal tersebut bukan karena hadirnya batasan yang ada pada kita yang kita miliki dengan hadirnya persepsi dan ilmu hasil (ilmu hushuliy/mediated knowledge), melainkan hal tersebut karena persepsi yang hadir dalam pikiran (fil dzihniy). Akan tetapi apapun jenisnya yang didugakan, ia berada pada objek-objek yang ada, sementara particular pada wujud luar pikiran (fil kharij), maka apa yang kita lihat dari diri kita dan kita menggambarkan tentangnya, itu adalah sesuatu yang manusiawi secara esensinya yang tidak menjamin bergabung dan menjadi satu. Sehingga wujud mengikut, maka kita telah mampu mengetahuinya karena adanya esensi-esensi yang wujud, yang mana esensi-esensinya itu karena adanya kita terhadap wujud luar pikiran (fil kharij), yang itu adalah standart individu dan yang tersusun atas efek-efek. Maka, ini adalah jenis yang kedua dari ilmu, maka ini yang disebut dengan ilmu hadir (ilmu hudhuriy/immediate knowledge).
Kedua ilmu ini dapat digolongkan lagi menjadi dua bagian ilmu. Bahwasannya hadirnya objek pada knower itu ada dua, yakni : dengan mahiyyahnya dan dengan wujudnya, maka yang pertama (dengan mahiyyahnya) adalah ilmu hasil (ilmu hushuliy) dan yang kedua (dengan wujudnya) adalah ilmu hadir (ilmu hudhuriy).
Kemudian, jika ilmu itu menjadi hasil yang ada pada kita, maka ini bermakna bahwa ilmu itu adalah hadirnya sebuah objek pada kita, karena ilmu itu berupa objek secara dzatnya, jika tidak, maka itu bukan ilmu. Ilmu itu hasil objek yang ada pada diri kita, yang menjadi hasil dari sesuatu, dan hadirnya bukan ketika otak kita kosong, melainkan wujudnya dan wujudnya sendiri.
Tidak ada makna pada hasil objek terhadap knower, kecuali satu kesatuan knower dengan ilmu, sama dengan ketika ilmu itu menjadi hasil (hushuliy) atau hadir (hudhuriy). Bahwasannya objek yang hadir (hudhuriy) jika itu berupa substansi yang berdiri sendiri, maka wujudnya ada karena dirinya sendiri, sehingga objek itu menyatu pada knower. Maka benar bahwasannya knower menyatu dengan objek tersebut, sebagaimana warna yang selalu menyatu dengan bentuk objeknya. Maka, jika asumsi itu dinisbatkan pada knower, maka objek selalu menyatu dengan knower, selama objek tersebut bukan objek di luar pikiran (fil kharij). Seperti itulah asumsi wujud objek yang menyatu pada knower. Dan objek hasil (hushuliy) itu diwujudkan oleh knower yang sama dengan substansi yang ada pada dirinya atau warna yang selalu ada pada bentuk objeknya, bukan selainnya. Maka objek harus selalu ada pada knower dan menyatu (secara bersamaan).
Maka, bahwasannya ilmu hasil (hushuliy) itu adalah ilmu hadir (hudhuriy).
Maka hadirnya ilmu pada knower itu sifat khusus dari ilmu, tetapi tidak setiap yang hadir demikian. Lalu bagaimana mungkin hadirnya suatu hal secara aktualitas yang telah terjadi, sedangkan hal tersebut tidak ada sifat potensialitas di dalamnya, karena sesuatu itu bersifat mutlak, kemudian kita melihat dengan perasaan bahwa objek tersebut adalah objek sebagaimana objek ? Sedangkan objek tersebut tidak memiliki kekuatan untuk menjadi sesuatu yang lain dan tidak dapat berubah sehingga objek tersebut tetap dari apa-apa yang telah membentuknya. Kemudian hasil yang nonmateri (objek) itu dari materi, yang mana materi itu kosong dari ketertutupan potensialitas, maka objek tersebut kita menyebut hal itu adalah hadir (hudhur).
Kemudian hadirnya objek itu adalah sesuatu yang sempurna secara aktualitas, tidak berkaitan lagi dengan materi dan potensialitas, karena hal itu menyebabkan sesuatu itu tidak sempurna dan tidak utuh dari sisi kesempurnaan secara potensialnya.
Sesuai hadirnya objek yang diketahui yang ada pada knower tersebut, knower tersebut menghasilkan ilmu sebagai sesuatu yang actual yang mana keaktualannya itu sempurna. Jika objek tersebut tidak utuh, ya karena memang objek tersebut itu bergantung pada potensialitas, sementara objek tersebut menyatu pada knower sebagai sesuatu yang nonmateri dari materi yang kosong, sehingga hanya ada potensialitas saja.
Bahwasannya ilmu itu hadir sebagai objek yang nonmateri pada objek yang nonmateri pula, sama dengan yang menghasilkan itu mejadi bentuk apa-apa yang dihasilkannya, sebagaimana dalam ilmu sesuatu pada dirinya atau pada selainnya dari satu sisi, yakni, sebagaimana pada ilmu sesuatu yang ada di luar pikiran (fil kharij) terhadap batasan-batasannya (mahiyyah) yang ada di luar (fil kharij) pula.
Penjelasan pertama : Bahwasannya objek yang diketahui itu sebuah kebergantungan ilmu yang wajib ada sebagai hal-hal yang nonmateri dari materi, sehingga bermakna bahwa ilmu itu juga hal-hal yang nonmateri.
Penjelasan kedua : Bahwasannya knower-lah yang mendirikan ilmu, sedangkan ilmu itu sendiri wajib menjadi sesuatu yang nonmateri dari materi itu juga.
Selengkapnya...
The Book will Guides for Young Research
Launched by Ali Morteza
INTRODUCTION
In the Name of God, the All-beneficent, the All-merciful.
All praise belongs to God and to Him refers all eulogy in its reality.
May benedictions and peace be upon Muhammad,
His Apostle and the best of His creation,
and upon the Pure Ones of his family and progeny.
THE DEFINITION, SUBJECT AND END OF HIKMAH
Metaphysics (al-hikmat al-ilahiyyah, literally, 'divine wisdom') is a discipline that discusses being (mawjud) qua being. Its subject deals with the essential properties of being qua being. Its end is to achieve a general knowledge of existents and to distinguish them from that which is not really existent.
To explain, when man considers himself, he finds his own self as possessing a reality. Ke also finds that there is a reality lying beyond liis self that is within the reach of his knowledge. Accordingly, when he seeks something, that is because it is what it is, and when he avoids something or runs away from something, that is because it is what it is. For instance, an infant groping for its mother's breast seeks real not imaginary milk. Similarly, a man running away from a lion, runs away from what he considers to be a real wild beast, not something imaginary.
However, at times he may mistakenly regard something unreal as existing in external reality; for instance, luck and giants. Or, at times, he may consider something existing in external reality as unreal; for instance, the immaterial soul (al-nafs al-mujarradah) and the immaterial Intellect (al-'aql al-mujarrad). Hence it is necessary, first of all, to recognize the characteristics of being qua being in order to distinguish it from that which is not such. The science that discusses these matters is metaphysics.
Metaphysics is also called the First Philosophy and the Higher Science (al-'ilm al-a'la). Its subject is being qua being and its end is to distinguish real existents from that which is not real, and to recognize the higher causes (al-'ilal al-'aliyah) of existence, especially the First Cause (al-'illat al-ula), in which terminates the entire chain of existents, and Its most beautiful Names and sublime Attributes; chat is, Allah, exalted is His Name.
THE GENERAL PRINCIPLES OF EXISTENCE
1.1. THE SELF-EVIDENT CHARACTER OF THE MEANING OF EXISTENCE
The concept of 'existence' is a self-evident one and needs no mediating terms. Hence it has no explanatory terms (mu'arrif) in the form of a definition (hadd) or description (rasm), because its meaning is more obvious than that of any explanatory term. Such definitions as "Existence is what subsists in reality," or "Existence is that which allows of predication" are explications of the word, not true definitions.
Moreover, as will be explained later, existence has neither any genus (jins), nor differentia (fasl), nor any proprium (khassah) in the sense of one of the five universals (al-kulliyyat al-khams). As all explanatory terms are based on these, existence can have no definition or description.
1.2. THE CONCEPT OF EXISTENCE IS UNIVOCAL
Existence is predicated of different existents in a single sense, i.e., univocally (ishtirak ma'nawi).
A proof of it is that we divide existence into its different categories, such as the existence of the Necessary Being (wujud al-wajib) and the existence of the contingent being (wujud al-mumkin). The existence of the contingent is divided into that of substance (wujud al-jawhar) and that of accident (wujud al-mumkin). The existence of substance and the existence of accident are again divided into their various kinds. It is evident that the validity of a division depends on the unity of what is being divided and on its presence in all its divisions.
Another proof of it is that after positing the existence of something, at times we have doubts about its essential characteristics. For instance, after affirming the existence of a creator for the world, we may have doubts as to whether the creator is a necessary (wajib) or a contingent (mumkin) being, or as to whether or not he is characterized with quiddity (mahiyyah). Or, for instance, after affirming that man has a soul (nafs), we may have doubts as to whether it is material (maddi) or immaterial (mujarrad), a substance (jawhar) or an accident ('arad). Hence, if 'existence' were not univocal in the different instances and were it an equivocal or homonymous term with disparate meanings (mushtarak lafzi), its meaning would necessarily vary from one subject of which it is predicated to another.
Another proof is that non-existence ('adam) is the contradictory of existence (wujud): non-existence is univocal, because there, are no distinctions (tamayuz) in non-existence. Hence, existence, which is the contradictory of non-existence, is also univocal, for otherwise it would imply a violation of the law of contradiction, which is impossible.
Those who have held that 'existence' is equivocal in relation to different existents, i.e. in relation to the Necessary Being and contingent beings, have done so in order to avoid the conclusion that there is a similarity (sinkhiyyah) between cause and effect, or between the Necessary Being and contingent existents. However, such a position stands refuted, because it amounts to suspending the intellect's cognitive faculties. To elaborate, if in the statement, 'The Necessary Being exists,' we understand 'existence' to mean the same as what it means in a statement asserting the existence of a contingent being, it implies that 'existence' is univocal (mushtarak ma'nawi). If what is understood in the former statement [by 'existence'] were the opposite of that which is understood in the latter, being the contradictory of the latter, the statement 'The Necessary Being exists,' would amount to the negation of Its existence.
Finally, if nothing were understandable from it, that would amount to a suspension of the intellect's cognitive faculties, which is not however the state in which we find ourselves.
1.3. EXISTENCE IS ADDITIONAL TO QUIDDITY
A thing's existence is additional to its quiddity, in the sense, that each of them [i.e. 'existence' and 'quiddity'] signifies something not understandable from the other. From existence, the intellect first abstracts [or divests] quiddity, which is represented by the answer to the question, 'What is it?' Then the intellect considers it in isolation and attributes existence to it. This is what is meant by predication ['urud, i.e. ascription of existence to quiddity]. Hence existence is neither identical with quiddity nor a part of it.
A proof of it is that one may properly negate existence in relation to quiddity. Had it been identical with quiddity, or a part of it, such a negation would have been invalid, for it is impossible to negate something in regard to a thing which is identical with it or a part of it.
Also, a proof is required if existence is to be predicated of a quiddity; therefore, it is neither identical with quiddity nor a part of it, because a thing's essence (dhat) and its essential characteristics [i.e. genus and differentia] are self-evident and do not stand in need of a proof.
Moreover, quiddity is in itself indifferent (mutasawiyat al-nisbah, lit. 'equally related') to existence and non-existence. Were existence identical with quiddity or a part of it, it would be impossible to attribute to it non-existence, which is its contradictory.
1.4. THE FUNDAMENTAL REALITY OF EXISTENCE
We have no doubt that there are real things out there in external reality possessing certain real properties (athar), and that they are not illusory. In regard to each of the things that we observe— which is a single reality in the external world—we form two concepts different from one another, though they pertain to a single thing. These two concepts are 'existence' and 'quiddity.' For instance, in regard to a person existing in external reality, we posit his/her quiddity as a 'human being' and that he/she exists.
The philosophers (hukama) have differed as to which of the two concepts is fundamental (asil). The Peripatetics (al-Mashsha'un) hold existence to be fundamentally real (asalat al-wujud). The belief in the fundamentality of quiddity (asalat al-mahiyyah) has been ascribed to the Emanationists (al-Ishraqiyyun). The view that both of them may be regarded as fundamentally real is one which no one has held, for that would imply that every thing is two things, which is logically inadmissible.
The Peripatetics are right in holding existence to be fundamentally real. A proof of it is that quiddity as such is indifferent to [or stands in equal relation to] existence and non-existence, and were it capable by itself of emerging from this state of indifference [or neutrality] and assuming existence along with its properties (athar), that would amount to a violation of the law of identity (inqilab; lit. 'mutation'), which is impossible. Hence it is existence that brings quiddity out of its state of indifference and is fundamentally real.
As to that which some have said, that quiddity emerges from its state of indifference to assume reality through the relation that it acquires with the Maker, such an argument stands refuted. Because the difference in the state of quiddity after its relation with the Maker amounts to existence, though it should be called 'a relation with the Maker.' And should there occur no difference in its state, and should existence nevertheless be predicated of it, that would amount to a violation of the law of identity, as mentioned.
Another proof is that quiddities are the source of multiplicity and diversity. Had existence not been fundamentally real, there would have been no real unity, nor any union between two quiddities [in one thing]. As a consequence, there would be no predication, which signifies unity in existence [as in a proposition of the type, 'A is B'], and logical necessity requires the contrary of it. Hence existence is fundamentally real, existing by itself, and quiddity exists through it.
Another proof is that when quiddity exists externally, it possesses the properties (athar) expected of it. But when quiddity exists through mental existence (wujud dhihni) (which will be dealt with later on), it does not possess any of these properties. So if existence were not real, and were quiddity — which is there in both modes of being—real, there would be no difference between these two modes. Since this consequent premise is invalid, the antecedent must also be such.
Another proof is that quiddity as such is indifferent in its relation to priority (taqaddum) and posteriority (ta'khkhur), strength (shiddah) and weakness (da'f), actuality (fi'l) and potentiality (quwwah). However, things existing in external reality differ in regard to these characteristics. Some of them are prior and strong, such as the cause ('illah), and some are the opposite of that, such as the effect (ma'lul). Some of them have actuality and some of them possess potentiality. Were existence not fundamentally real, the difference in respect to these characteristics would be attributable to quiddity, which is indifferent in relation to all of them. This involves a contradiction. There are other proofs besides the ones given here and they are mentioned in detailed works.
Those who believe in the fundamental reality of quiddity arid consider existence to be derivative (i'tibari), have offered certain infirm arguments, like the one which says, 'If existence were fundamentally real, it would exist externally; from which it follows that it has an existence, and that existence again has another existence, and so on ad infinitum. This involves an infinite regress, which is inadmissible.'
The answer to such an argument is that existence does indeed exist; but it exists by itself, not by another existence. So the matter does not lead to an infinite regress.
In the light of what has been said, the infirmity of another view, ascribed to Dawwani, also becomes evident. That view ascribes fundamental reality to existence with respect to the Necessary Being, and to quiddity with respect to contingent beings. According to it, existence is attributable to the Necessary Being in the sense that It is existent by Itself and to quiddities in the sense that they have only a relation with being, such as the relation between the 'milkman' (labin) and 'milk' (laban) and the 'date seller' (tamir) and 'dates' (tamr). However, in accordance with the doctrine endorsed by us, existence exists by itself (bi dhatih) and quiddity exists accidentally (bi al-'arad).
1.5. EXISTENCE IS ONE GRADATIONAL REALITY
The believers in the fundamental reality of existence disagree amongst themselves. Some of them regard existence as a single gradational reality (haqiqah mushakkakah wahidah). This view is ascribed to the Fahlaviyyun, philosophers of [ancient] Iran. Existence, according to them, is self-manifesting and makes other things—i.e. quiddities—manifest. It may be likened to sensible light, which is self-manifesting and makes other things, such as opaque bodies, manifest to vision.
Sensible light is a single species. Its reality is that it is self-manifesting and manifests things other than itself. This feature applies to all the different grades of light and shade with their multiplicity and diversity. Hence a strong light shares its luminous nature with a weak light, and a weak light shares its luminous nature with a strong one. The strength of a strong light is neither the constituting differentia (juz muqawwim) of its luminous nature, so as to negate the luminous character of weak light, nor is it an accident extraneous to its reality. The weakness of a weak light neither negates its luminous nature, nor is it a compound of light and darkness, for darkness is non-existence of light. The intensity of a strong light inheres in its luminous nature, and so does the weakness of a weak light. Light possesses a wide range in accordance with its various degrees of intensity and weakness, and there is a wide range associated with each of its degrees depending on the varying receptivity of opaque bodies [as in reflection and refraction].
Similarly, existence is one reality with various degrees differentiated by intensity and weakness, priority and posteriority, etc. That which differentiates these degrees of existence is exactly that which is common to them, and that which makes them different is exactly that which makes them one. Hence the particularity of any of these degrees is not a constituting differentia of existence, by virtue of the simplicity (basatah) of existence —as will be explained later on—nor is it anything extraneous to it. This is because the fundamental reality of existence precludes that there should be anything other than it or external to it. Rather, the particularity of every degree is what constitutes that degree itself and is not something other than it.
The multiplicity in existence pertains to its various vertical (tuli) degrees, beginning from the weakest of degrees —represented by prime matter, which exists on the verge of non-existence— where it has no actuality except the absence of actuality. From there it rises in degrees to the level of the Necessary Being, which has no limit except the absence of limit. Also, existence has a horizontal ('aradi) multiplicity particularized by the various quiddities, quiddity being the source of multiplicity.
A group of Peripatetics have held the view that existence consists of entities essentially disparate —disparate in their entirety— from each other (haqa'iq mutabayinah bi tamami dhawatiha). They are disparate because their properties are disparate. The disparity is essential and complete, by virtue of the simplicity of their essences. On the basis of this position, the predication of existence in regard to these entities becomes, of necessity, something accidental and extrinsic to them (for, were it intrinsic to them, it would be a constituent, and this contradicts simplicity).
The truth is that existence is one graded reality. Were it not one reality, entities would have been disparate from one another with the totality of their essences (dhawat). That would entail that the concept of existence, which is a single concept, as said, has been abstracted from disparate things qua disparate things [having no unifying aspect]. This is impossible. To explain, there is an essential unity between a concept and that to which it refers. The factor of disparity lies in existence being mental or external. Were something which is one, qua one, capable of being abstracted from that which is many, qua many, one qua one would be the same as many qua many, which is impossible.
Also, suppose that a single concept were abstracted from a multiplicity of referents qua disparate things. If the concept represented a certain characteristic of one referent, it would not be predicable of a second referent. If the concept represented some characteristic of the second referent, it would not correspond to the first referent. If the characteristics of both the referents were represented in it, it would not correspond to either of the referents; and should none of these two characteristics be taken into consideration and the concept were to represent that which is common to the two referents, such an abstraction could not have been possible from different things qua different things, but from their unifying aspect, such as the abstraction of universals from the common aspect shared by all individuals covered by that universal. This, however, contradicts the assumption.
As to existence being a gradational reality, since it manifests various real perfections that make up the distinctive attributes that are not extraneous" to the single reality of existence, such as intensity and weakness, priority and posteriority, potentiality and actuality, etc., existence is a single reality multiple in its essence, wherein all that makes existents differ refers to what is common to them, and vice versa. This is what is called gradation (tashkik).
1.6. THAT WHICH PARTICULARIZES EXISTENCE
Existence is particularized in three aspects: (1) as a single fundamental reality in itself, which is self-subsistent [unlike quiddity]; (2) in accordance with the characteristics of its degrees, which are not extraneous to it; (3) in accordance with the different quiddities to which existence pertains and which differentiate it accidentally in accordance with their difference.
The manner in which existence pertains to quiddity and gives it subsistence (thubut) is not the kind peculiar to categories [like accidents in relation to substance], wherein the subsistence of a quality depends on the prior subsistence of its subject. That is because the meaning of existence of quiddity is its subsistence through existence. This follows from the fundamental reality of existence and the derivative (i'tibari) character of quiddity. It is the intellect which, by virtue of its familiarity with quiddities, supposes quiddity to be the subject to which predicates existence. However, the matter is the inverse of this predication in concrete reality.
This explanation serves to answer the well-known objection concerning the predication of existence in relation to quiddity. It is said that in accordance with the Rule of Subordination (qaidat al-far'iyyah), the subsistence (thubut) of some quality (q) of a thing (A) is subordinate to that thing's subsistence, which makes it necessary that the thing of which the property is posited subsist prior to the quality posited of it. Hence the subsistence of existence in relation to quiddity depends on the prior subsistence of quiddity. For should the subsistence of quiddity be the same as the subsistence of existence, that would imply something being prior to itself; and should it be different, the subsistence of existence in relation to quiddity would depend on another subsistence of quiddity, and so on. This results in an infinite regress.
This objection has forced some philosophers to admit an exception to the rule in the case of subsistence of existence in relation to quiddity. Some of them have been forced to change posteriority into concomitance. They state: 'The truth is that the subsistence of one thing [quality] in relation to another [subject] is concomitant with the subsistence of the subject, though it be through the subsistence of the former. The subsistence of existence in relation to quiddity is concomitant with the subsistence of quiddity through this existence itself. Hence there remains no room for an objection."
Some of them have been compelled by this objection into holding that existence has no entity or subsistence, either in the mind or in external reality. 'Being' has a simple meaning represented in Farsi by the word hast ('is'). This derivation [of a substantive from a verb] is merely verbal, and existence has no subsistence at all so as to depend on the subsistence of quiddity.
Some others have been led to hold that 'existence' has nothing but a general meaning, signifying existence in general and its parts, which is the same general meaning appended to quiddity, in the sense that the conditioning is internal while the condition is external. The individual, which is the totality of the conditioned, the conditioning, and the condition, has no subsistence.
These attempts to solve the difficulty are invalid, like the earlier one. The correct solution is the one suggested by the foregoing discussion, that the Rule of Subordination applies to the subsistence of a thing in relation to another thing (thubutu shay'in li shay), not to a thing's subsistence (thubutu al-shay'). In other words, the rule applies to composite propositions [e.g., 'A has the quality q'], not to simple propositions [e.g., 'A exists'], as is the matter in the present case.
1.7. NEGATIVE PROPERTIES OF EXISTENCE
One of the properties of existence is that it has no 'other.' Since its reality exhausts all fundamental reality, this necessitates the essential vacuity of anything that may be supposed as being alienated from it or besides it.
Another of these properties is that it has no second, for the oneness of its fundamental reality and the vacuity of anything else that may be supposed, precludes its possessing any ingredient within it or appended to it. It is absolute (sirf), and a thing in its absoluteness does not yield to duplication or repetition. Any second that may be assumed for it would be either identical with the first, or differ from it due to something intrinsic or extrinsic that is other than it, and the supposition (that there is nothing except existence) negates any other.
Another of these properties is that existence is neither substance nor accident. It is not substance, because substance is a quiddity that does not require a subject to subsist in external reality, while existence is not of the order of quiddity. As to its not being an accident, that is because an accident subsists through its subject and existence is self-subsisting and everything else subsists through it.
Another of these properties is that existence is not a part of anything, because the other supposed part will be something other than existence, while existence has no other.
As to the statement that 'every contingent existent (mumkin) is a duality composed of quiddity and existence' [which apparently implies that existence is a part of something], that is merely one of the intellect's constructs (i'tibar 'aqli) representing the necessary relation between contingent existence and quiddity. It does not mean that it is a compound made up of two parts possessing fundamental reality.
Another of these properties is that existence has no constituents. Constituents may be: (i) conceptual, such as genus and differentia; (ii) external, such as matter and form; or (iii) quantitative, such as length, area, and volume. Existence possesses none of these parts.
As to the absence of conceptual constituents in existence, were there a genus and differentia for existence, the genus would be either existence or something else. If the genus were existence, its differentia, which divides the genus, would constitute it, for the differentia in relation to the genus actualizes the genus [through species]; it does not constitute the essence of the genus itself. Existence, however, actualizes itself. The genus cannot be something other than existence, because existence has no other.
As to external constituents, i.e. matter and form, they are genus and differentia, though like genus and differentia they are not predicable of each other. The negation of genus and differentia in regard to existence necessarily implies the negation of these also.
As to quantitative constituents, magnitude is a property of bodies, which are composed of matter and form. Since existence has neither matter nor form, it follows that it has neither bodiness, nor, as consequence, magnitude.
From what has been said, it become evident that existence has no species either, for a species is actualized by individuation, and existence is actualized by itself.
1.8. THE MEANING OF 'THE DOMAIN OF FACTUALITY'
From what has been said above,' it becomes clear that existence has reality and actuality by itself, or, rather, existence is reality and actuality itself. Quiddities —which are represented by the reply to the question 'What is it?'— either occur as external existence, in which case they possess certain properties, or as mental existence, in which case they do not possess those properties. They obtain reality and actuality through existence, not by themselves, though the two of them, existence and quiddity, are united in external reality.
The derivative (i'tibarí) concepts formulated by the intellect, e.g. existence, unity, causality and the like, are those that have not been abstracted from external reality. The intellect formulates them through a kind of analysis into which it is forced by necessity. Moreover, these concepts have a kind of subsistence (thubut) by virtue of the subsistence of the instances to which they refer, although they are not abstracted from their instances in the way quiddities are abstracted from their individual instances and their limits.
Subsistence in general, including the subsistence of existence, quiddity, and i'tibari concepts, is called 'fact' (nafs al-amr). It is that to which a proposition must correspond in order to be true, as when one says, "The case is such and such in fact."
To explain, some propositions pertain to external reality, as when we say, "The Necessary Being exists," or when we say, "The townspeople have left the city," or when we say, "Man is potentially risible (capable of laughing)." The truth of these propositions depends on their correspondence to external reality.
There are other propositions that pertain to the mind, in that they pertain to the mind's formulations even if they should involve concepts abstracted from external reality, such as the propositions, "A universal is either essential or accidental," and "Man is a species." The criterion of truth in these cases is their correspondence to the mind, wherein they find subsistence. In each of the above cases, truth depends on correspondence to 'fact.' Hence 'fact' is more general than external or mental subsistence (al-thubût al-dhihni wa al-khârijî).
Some philosophers have said that 'fact' is an immaterial intellect ('aql mujarrad), which contains the general forms of the intelligibles. True judgements relating to propositions pertaining to the mind and external reality correspond to its intelligible forms.
This is not admissible, for when we shift our discussion to the immaterial Intellect and its intelligible forms, we see that they are also judgements which in order to be true stand in need of correspondence of their contents to what is external to it.
1.9. THINGNESS AND EXISTENCE
Thingness (shay'iyyah) is identical with existence, and non-existence has no entity, being sheer vacuity with no subsistence whatsoever. Hence subsistence [thubut) means existence, and 'negation' (nafy) means non-existence.
According to the Mu'tazilah, 'subsistence' (thubut) is more general than existence. They regard some non-existents—namely, 'non-existent contingents' (al-ma'dum al-mumkin)—as possessing a kind of subsistence. Hence, according to them, 'negation' has a narrower meaning than non-existence, not including anything except impossible non-existents (al-ma'dum al-mumtani’).
According to some of them, there is a middle stage between existents and non-existents which they call 'state' {hat), which is the attribute of a being that is neither existent nor non-existent, such as 'knowledgeability' ('ilmiyyah), 'fatherhood' and 'strength,' which are abstracted qualities that have no independent existence. Hence they may not be said to exist, though existents possess these [relations and qualities]. Neither may they be said to be non-existent. As to subsistence (thubut) and negation (nafy), they are contradictories, there being no intermediary between them.
Such ruminations are mere fancies. The self-evident judgement, based on sound natural sense that non-existence is vacuity and has no entity, suffices to refute them.
1.10. ABSENCE OF DISTINCTION AND CAUSAL RELATIONSHIP
IN NON-EXISTENCE
As to the absence of distinction (tamayuz), distinction is something that derives from subsistence and being, while non-existence has no existence or being. Of course, at times, [absolute] non-existence is distinguished from the non-existence related by the mind to certain faculties and kinds of existents, such as non-existence of vision or hearing, or non-existence of Zayd and 'Amr. However, there are no distinctions in absolute non-existence.
As to the absence of causality in non-existence, that is on account of its vacuity and nonentity. As to such statements as, "The non-existence of cause is the cause of non-existence of the effeet," they involve loose and metaphoric expression. Hence when it is said, for instance, "There were no ciouds, and therefore there was no rain," it means that the causal relation between the existence of clouds and the existence of rain did not materialize. This case, as has been pointed out, is similar to the application of the classification of affirmative propositions to negative ones, which are classified as "negative predicative propositions" and "negative implicative propositions," and so on, although they involve the negation of predication and implication, respectively.
1.11. ABSOLUTE NON-EXISTENCE ALLOWS OF NO PREDICATION
From what was said earlier' it becomes clear that non-existence is sheer vacuity, without any kind of entity, and only an entity can be predicated of an entity.
However, a doubt has been raised here by those who state that the statement, "Non-existence allows of no predication," is self-contradictory, for non- predicability is predicated of it. This argument stands refuted on the basis of the forthcoming discussion on unity and multiplicity." To mention it briefly here, predication is either intensional (al-haml al-awwali al-dhati, lit. 'primary essential predication') or extensional (al-haml al-sha'i' al-sina'i, lit. 'common technical predication'). In intensional predication, the subject and predicate are intensionally (mafhuman) one [as is the case with all tautologies and definitions], though they are different from the viewpoint of conceptual consideration (i'tibarari), as when we say, 'Man is man.' In extensional predication, the two are united in concrete reality (wujudan) but differ intensionally (mafhuman), as when we say, 'Man is a risible being.' Absolute non-existence is absolute non-existence from the viewpoint of intensional predication and does not allow of any predication, but is not absolute non-being from the viewpoint of extensional predication, but a [conceptual] entity present in the mind of which unpredicability is predicated. Hence no contradiction is involved here.
In the light of this explanation, ambiguity is removed from a number of propositions that have been imagined to be paradoxical, e.g. 'The particular is particular,' 'A deity besides God is impossible,' and 'A thing is either subsistent in the mind or non-subsistent in it.' One may point out that the particular is a universal in that it applies to a multiplicity of objects, that 'a deity besides God' is an intelligible in the mind and has an entity there, that 'what is non-subsistent in the mind' subsists in the mind, which apprehends it.
These apparent paradoxes are resolved when we recognize that the particular is a particular from the viewpoint of intensional predication and a universal from the viewpoint of extensional predication. 'A deity besides God' is such from the viewpoint of intensional predication and a creature of God and a contingent being [existing in the mind] from the viewpoint of extensional predication. The 'non-subsistent in the mind' is such from the viewpoint of intensional predication, and subsistent in the mind from the viewpoint of extensional predication.
1.12. WHAT HAS CEASED TO EXIST DOES NOT COME BACK ITSELF
The philosophers have held that something that has ceased to exist cannot come back itself. Some theologians have followed them in this belief, but most of them consider it possible.
Ibn Sina considered the impossibility of the return of what has ceased to exist to be self-evident, for the intellect regards what has ceased to exist as a nonentity and vacuity, which cannot be characterized with return.
Others [who do not consider the impossibility as self-evident], considering it to be based on inference, have offered certain arguments in this regard.
(i) One of their arguments is that if it were admitted that something that has ceased to exist in a certain period of time can itself return in another period of time, non-existence would intervene between the thing and itself, which is impossible, because then it would exist in two periods separated by non-existence.
(ii) Another argument is that if the return of a thing after its ceasing to exist were possible, we would also have to allow the possibility of a thing having another entity identical to itself in all respects during the first and the second periods, which is impossible. To explain, there is a rule that all identical things are to be judged equally with regard to what is possible for them and what is impossible for them. There is no difference in any respect between a thing's 'double' in the first period and its returning counterpart in the second period, because they are supposedly identical to the first thing in all aspects. However, the coexistence of two existents identical in all respects necessarily implies the absence of distinction between them. This amounts to oneness of many qua many, which is impossible.
(iii) Another argument is that the return of a thing that has ceased to exist requires that the returning counterpart be identical with the first thing, which is impossible because it implies a violation of the law of identity and a contradiction. To explain, the return of a thing that has itself ceased to exist entails that the returning counterpart should be the same as the first thing in respect of quiddity and all its individualizing qualities, even time, so that the returning thing be identical with the first, which involves a violation of the law of identity and a contradiction.
(iv) Another argument is that if the return of a thing that has ceased to exist were admissible, there would be no definite limit to the number of returns. Then there would be no difference between the first, second, and the consecutive returns ad infinitum, in the same way as there is supposedly no difference between the first thing and its returning counterpart. However, determinate number is a necessary condition for the existence of an individual thing.
Those who regard such a comeback as admissible advance the argument that should the coming back of a thing after ceasing to exist be impossible, that impossibility must inhere either in its quiddity or in a proprium associated with its quiddity. Evidently, if the case were such, the thing would not come into existence in the first place. Should the impossibility be due to a separable accident ('arad mufariq), the impossibility would disappear on its disappearance.
This argument is refutable on the ground that the impossibility is inherent in the thing's existence and ipseity, not in its quiddity, as is evident from the above-mentioned arguments.
The main reason that has led the believers in the possibility of a thing's return after ceasing to exist is their belief that the doctrine of resurrection preached by the true heavenly religions involves belief in the return of things after their having ceased to exist.
Such a notion is refutable on the ground that death is a kind of progression (istikmal), which does not involve extinction and cessation of existence.
Selengkapnya...

